FAKTUALUPDATE.COM – Pontianak 14 Mei 2026 Kalimantan Barat Di tengah maraknya dinamika sosial dan praktik dunia usaha yang semakin kompleks dan kehilangan arah,
sebuah karya hadir bukan untuk menenangkan, tetapi untuk mengguncang kesadaran. Sugioto secara resmi meluncurkan buku terbarunya berjudul Kita Belum Dewasa,
sebuah karya yang berani membuka tabir realitas, tanpa kompromi, tanpa basa-basi.
Buku ini bukan sekadar rangkaian kata-kata Ia adalah cermin yang jelas memaksa kita melihat wajah sendiri
wajah masyarakat yang kerap berbicara tentang kemajuan, tetapi masih tersandera oleh pola pikir sempit, emosi sesaat, dan kepentingan jangka pendek.
Dalam Kita Belum Dewasa, Sugioto menyampaikan satu pesan yang tersurat sebagai isyarat bagi bagi dunia usaha,
Masalah terbesar kita bukan pada sistem melainkan pada manusia yang menjalankan sistem itu sendiri.
SOSIAL YANG RAPUH, BISNIS YANG KEHILANGAN arah dan etika,
Dengan gaya bahasa yang lugas dan tajam, rico sugioto mengatakan, buku ini membedah berbagai fenomena yang selama ini sering disadari, tetapi jarang diakui secara jujur:
Ketidakdewasaan sosial tampak dalam:
-Mudahnya konflik dipicu oleh perbedaan kecil,
-Dominasi ego dibandingkan kepentingan bersama,
-Rendahnya femahaman budaya dialog dan murang memiliki kedewasaan berpikir,
Sementara dalam dunia usaha, ketidakdewasaan menjelma menjadi:
-Praktik bisnis yang mengabaikan integritas,
-Orientasi keuntungan sesaat tanpa keberlanjutan,
-Minimnya tanggung jawab terhadap dampak sosial dan lingkungan.
Sugioto menegaskan, ketika etika ditinggalkan dan kedewasaan diabaikan, maka yang lahir bukan kemajuan
melainkan krisis dan keritik yang terus berulang dengan wajah yang berbeda.
BUKAN SEKADAR KRITIK, TAPI TAMPARAN YANG MENYENTAK
Berbeda dari karya motivasi yang cenderung menenangkan, buku ini justru menyentak dan menggugat. Ia tidak memberi ruang bagi pembaca untuk bersembunyi di balik alasan atau menyalahkan keadaan.
Judul “Kita Belum Dewasa” adalah sebuah pernyataan kolektif:
Kita berarti, tidak ada yang dikecualikan
Belum Dewasa berarti masih ada kekurangan dan kegagalan dalam moral, etika, dan tanggung jawab.
Ini bukan tuduhan kepada satu pihak—melainkan pengakuan bersama yang selama ini dihindari.
Sorotan terhadap peluncuran buku ini juga mendapat perhatian dari Pontianak Post, yang menilai karya ini sebagai refleksi tajam terhadap kondisi sosial saat ini yang sedang berlangsung.
SERUAN PERUBAHAN: BERHENTI MENYALAHKAN, MULAI BERBENAH
Lebih jauh, Sugioto tidak berhenti pada kritik. Ia mengajak publik untuk melakukan sesuatu yang sering kali paling sulit: introspeksi.
Perubahan, menurutnya, tidak akan pernah lahir dari:
Retorika tanpa tindakan,
Kritik tanpa refleksi,
Ambisi tanpa etika,
Perubahan hanya akan terjadi ketika:
Individu berani mengakui kekurangan,
Pelaku usaha menjunjung tinggi integritas,
Masyarakat membangun kedewasaan kolektif,
KESIMPULAN: SEBUAH VONIS SOSIAL SEKALIGUS HARAPAN
Kita Belum Dewasa adalah lebih dari sekadar buku. Ia adalah:
Kritik sosial yang tajam,
Alarm bagi dunia usaha,
Cermin bagi masyarakat,
Sekaligus harapan untuk perubahan,
Karya ini menegaskan satu hal yang tidak bisa lagi dihindari:
Selama kedewasaan belum menjadi fondasi, maka kemajuan hanya akan menjadi ilusi.
Peluncuran buku ini menjadi momentum penting untuk membangun kesadaran baru. Bukan kesadaran yang nyaman, tetapi kesadaran yang jujur meski terasa pahit.
Karena pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh sistem yang kuat, tetapi oleh manusia yang dewasa dalam berpikir, bersikap, dan bertindak titup rico sugioto.
[ Naralis: rico sugioto ]
Tim-red-MM











