FaktualUpdate.com // Jakarta — Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Pengembangan Ekonomi Daerah dan Hilirisasi Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Provinsi Kalimantan Barat, Rabuansyah, S.H., mengikuti Rapat Pimpinan Nasional (RAPIMNAS) KADIN Indonesia Tahun 2026 yang berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta, pada 29–30 Oktober 2026.
Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari komitmen memperkuat kontribusi dunia usaha dalam pembangunan ekonomi daerah dan nasional.
RAPIMNAS KADIN Indonesia 2026 mengusung tema “Peran KADIN dalam Ekonomi Kerakyatan untuk Indonesia Mendunia” dengan subtema “UMKM Naik Kelas, Ekonomi Indonesia Berkualitas”.
Forum ini menjadi ruang konsolidasi pimpinan KADIN dari berbagai daerah untuk menyelaraskan program kerja, memperkuat koordinasi kelembagaan, serta merumuskan strategi peningkatan daya saing dunia usaha di tengah dinamika ekonomi nasional dan global.
Dalam perspektif pengembangan ekonomi daerah, Rabuansyah memandang Kalimantan Barat memiliki potensi strategis untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan Kalimantan.
Potensi sektor pertanian, perkebunan, perikanan, pertambangan, perdagangan, industri pengolahan, dan UMKM memerlukan pengelolaan terintegrasi agar mampu menghasilkan nilai tambah serta memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Menurutnya, pembangunan ekonomi daerah tidak seharusnya hanya bertumpu pada eksploitasi dan penjualan komoditas mentah.
Diperlukan transformasi struktur ekonomi melalui penguatan industri pengolahan, peningkatan produktivitas, penguasaan teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta perluasan akses pasar.
Dengan demikian, potensi sumber daya alam dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Hilirisasi menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan nilai tambah produk unggulan Kalimantan Barat.
Proses tersebut harus mencakup keseluruhan rantai nilai, mulai dari produksi bahan baku, pengolahan, standardisasi mutu, pengemasan, distribusi, hingga pemasaran ke pasar nasional dan internasional.
Strategi ini membutuhkan dukungan investasi, infrastruktur, teknologi, kepastian regulasi, serta kemitraan industri yang sehat.
Rabuansyah juga menekankan bahwa keberhasilan hilirisasi tidak boleh hanya diukur berdasarkan peningkatan investasi dan kapasitas industri, tetapi harus dilihat dari besarnya manfaat yang diterima masyarakat daerah.
Pengusaha lokal, koperasi, dan UMKM perlu memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam rantai pasok industri sehingga pertumbuhan investasi dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
Sejalan dengan tema RAPIMNAS, peningkatan kapasitas UMKM menjadi bagian penting dalam agenda penguatan ekonomi kerakyatan.
Upaya tersebut memerlukan pendampingan usaha, peningkatan kualitas sumber daya manusia, digitalisasi, sertifikasi produk, penguatan manajemen, kemudahan akses pembiayaan, serta perluasan jaringan pemasaran.
UMKM juga perlu didorong agar mampu memenuhi standar kualitas dan persyaratan kemitraan dengan perusahaan berskala besar.
Dalam konteks kelembagaan, KADIN memiliki posisi strategis sebagai mitra dunia usaha dan jembatan komunikasi antara pemerintah, investor, industri, koperasi, serta pelaku UMKM.
KADIN Kalimantan Barat diharapkan dapat memperkuat pemetaan potensi investasi daerah, mempertemukan pengusaha lokal dengan calon investor, mengembangkan kemitraan lintas sektor, dan membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk unggulan daerah.
Selain peluang investasi, kepastian hukum, transparansi, perlindungan lingkungan, dan tata kelola usaha yang baik merupakan faktor fundamental dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Pengembangan industri harus berjalan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan serta memperhatikan kepentingan masyarakat dan keberlanjutan sumber daya alam.
Dengan tata kelola yang kuat, kepercayaan investor dan daya saing daerah dapat ditingkatkan.
Sinergi antara KADIN dan pemerintah daerah juga perlu diarahkan pada penyusunan program ekonomi yang terukur, realistis, dan berorientasi pada hasil.
Pengembangan infrastruktur pendukung, penguatan rantai pasok lokal, peningkatan kompetensi tenaga kerja, serta kemudahan berusaha menjadi sejumlah aspek yang perlu memperoleh perhatian bersama agar investasi mampu memberikan dampak ekonomi yang berimbang.
Melalui keikutsertaannya dalam RAPIMNAS KADIN Indonesia 2026, Rabuansyah, S.H., diharapkan dapat memperkuat kontribusi Bidang Pengembangan Ekonomi Daerah dan Hilirisasi dalam menerjemahkan agenda strategis nasional menjadi program yang relevan bagi Kalimantan Barat.
Orientasi pembangunan ke depan harus menitikberatkan pada peningkatan nilai tambah sumber daya, penguatan pengusaha lokal, pertumbuhan UMKM, penciptaan lapangan kerja, dan pemerataan kesempatan ekonomi.
Kalimantan Barat tidak boleh hanya menjadi daerah penghasil bahan mentah, tetapi harus mampu berkembang menjadi daerah dengan kekuatan industri pengolahan, rantai nilai ekonomi yang kompetitif, serta pengusaha lokal yang mandiri dan berdaya saing.
Melalui kolaborasi pemerintah, KADIN, investor, industri, koperasi, dan masyarakat, RAPIMNAS KADIN Indonesia 2026 diharapkan menjadi momentum memperkuat fondasi ekonomi daerah yang inklusif, produktif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Rabuansyah, S.H.
Wakil Ketua Umum Bidang Pengembangan Ekonomi Daerah dan Hilirisasi
KADIN Provinsi Kalimantan Barat
TIM LIPUTAN













