Faktualupdate.com,Jakarta, 21 April 2026 —Ketua Umum Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB), AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal), menyampaikan keberatan atas pernyataan Jusuf Kalla yang dinilai berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terkait ajaran agama.
Gus Wal menilai pernyataan tersebut dapat memicu disinformasi teologis serta sentimen negatif di tengah masyarakat jika tidak dipahami secara utuh dan kontekstual. Ia menegaskan bahwa ajaran Islam tidak pernah membenarkan tindakan saling membunuh, melainkan menjunjung tinggi nilai kedamaian sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.
“Islam mengajarkan kasih sayang universal melalui konsep Rahman dan Rahim. Nilai ini menegaskan bahwa agama hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam, bukan sebagai ancaman,” ujarnya.
Menanggapi pernyataan tersebut, Gus Wal menjelaskan bahwa konteks peperangan dalam ajaran Islam bersifat spesifik, kontekstual, dan defensif, yakni dalam situasi konflik bersenjata, bukan sebagai legitimasi kekerasan dalam kondisi damai atau karena perbedaan keyakinan.
Sebagai tokoh yang aktif dalam isu kebhinekaan, toleransi, dan moderasi beragama, ia mengingatkan agar tokoh publik berhati-hati dalam menyampaikan pandangan, terutama terkait isu sensitif seperti agama dan konflik sosial.
Lebih lanjut, Gus Wal menegaskan bahwa pemahaman agama yang tidak utuh justru dapat memperkuat prasangka dan memicu perpecahan.
Ia merujuk pada Surah Al-Ma’idah ayat 32 yang menekankan bahwa membunuh satu nyawa tanpa alasan yang benar sama dengan membunuh seluruh umat manusia. Ia juga mengutip hadits riwayat Bukhari yang melarang keras tindakan kekerasan terhadap pihak yang berada dalam perjanjian damai.
Gus Wal mengimbau semua pihak untuk mencegah berkembangnya disinformasi serta menjaga ruang publik tetap sehat dari narasi provokatif.
Ia juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak mudah terprovokasi dan tetap menjaga persatuan. Menurutnya, kekuatan Indonesia terletak pada kerukunan antarumat beragama yang telah teruji oleh sejarah.
“Perbedaan penafsiran adalah hal yang wajar, tetapi tidak boleh merusak persaudaraan kebangsaan. Dialog yang sehat dan saling menghormati harus terus dikedepankan,” tegasnya.
Gus Wal menambahkan bahwa langkah hukum yang ditempuh oleh pihak tertentu tidak selalu dimaknai sebagai bentuk permusuhan, melainkan bagian dari edukasi publik agar diskursus tetap berbasis data, fakta, dan nilai-nilai keagamaan yang inklusif.
Ia menutup dengan menekankan pentingnya memperkuat toleransi dan moderasi beragama sebagai kunci menjaga stabilitas sosial serta memperkokoh persatuan Indonesia di tengah berbagai tantangan bangsa.
Editor : DM













