Jelang Muktamar NU 2026, Kandidat Berkumis Mendadak Jadi Sorotan

Faktualupdatem.com,Surabaya —Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada Agustus 2026, muncul narasi unik yang ramai diperbincangkan kalangan nahdliyin, yakni soal “siklus kumis” dalam kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Dalam catatan sejarah 100 tahun pertama NU, hanya ada satu Ketua Umum PBNU yang identik dengan kumis, yakni KH Hasan Gipo. Tokoh yang dikenal sebagai saudagar kaya asal Surabaya itu tercatat sebagai Ketua Umum pertama HBNO (Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama) sekaligus sosok dermawan yang banyak mengorbankan harta dan tenaga untuk perjuangan NU serta bangsa Indonesia.

Kaji Sagipoddin Abdul Latif alias Hasan Gipo menjadi satu-satunya pemimpin Tanfidziyah PBNU berkumis sepanjang abad pertama NU. Setelah era beliau, para Ketua Umum PBNU berikutnya justru dikenal tanpa kumis.

Deretan nama seperti KH M. Noer, KH Mahfoedh Shiddiq, KH Nachrowi Thohir, KH Wahid Hasyim, KH Masykur, KH Moh. Dahlan, KH Idham Chalid, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Hasyim Muzadi, KH Said Aqil Siradj hingga KH Yahya Cholil Staquf merupakan figur-figur Ketua Umum PBNU tanpa ciri khas kumis. Hanya KH Hasyim Muzadi yang sesekali tampil dengan kumis tipis, meski tidak konsisten karena kerap dicukur.

Memasuki awal abad kedua NU, dinamika bursa calon Ketua Umum PBNU mulai menjadi perhatian publik menjelang Muktamar ke-35 NU yang disebut-sebut sebagai muktamar pembuka abad kedua organisasi tersebut.

Dari sejumlah nama yang beredar, hanya dua kandidat yang dikenal konsisten berkumis, yakni Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Kiai Imam Jazuli. Sementara beberapa tokoh lain seperti Gus Salam maupun Gus Yahya disebut pernah tampil berkumis tipis, namun tidak menetap.

Narasi “siklus kumis” ini pun berkembang menjadi guyonan politik khas pesantren yang mengaitkan simbol kumis dengan peluang kepemimpinan PBNU di era mendatang.

Namun, peluang itu berubah setelah Gus Ipul dikabarkan menyatakan tidak maju dalam kontestasi Ketua Umum PBNU. Dengan demikian, perhatian publik nahdliyin yang menikmati narasi satir tersebut kini tertuju pada Imam Jazuli, tokoh yang disebut-sebut sebagai figur “crazy rich” asal Kota Wali.

Di sisi lain, sebagian kalangan menilai narasi perkumisan itu sekadar humor kultural khas NU yang mencairkan dinamika politik organisasi menjelang muktamar.

Terlepas dari guyonan tersebut, Muktamar ke-35 NU tetap dipandang sebagai momentum penting dalam menentukan arah kepemimpinan PBNU di awal abad kedua. Forum tertinggi organisasi itu diharapkan melahirkan pemimpin yang transformatif, kolaboratif, serta memiliki legitimasi moral kuat untuk menjaga tradisi dan masa depan NU.

Apakah “putaran waktu kumis” 100 tahun NU akan kembali terulang di abad kedua?

Bagi sebagian warga nahdliyin, biarlah hal itu tetap menjadi misteri sekaligus humor khas Muktamar NU tahun ini.

Ken Susi Hawa
Rumah Nahdliyin Surabaya, 25 Mei 2026

Editor : DM MPGI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *